BILATO, GORONTALO – Krisis kemanusiaan dan dugaan tata kelola bansos yang buruk di Desa Bilato, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo kini mulai mengungkap fakta-fakta memilukan di lapangan.
Sejumlah warga miskin setempat secara terbuka membeberkan nama-nama warga yang berhak namun sama sekali tidak pernah tersentuh program jaring pengaman sosial pemerintah.
Salah satu potret paling memprihatinkan menimpa Radima Monoarfa (81). Di usia senjanya, lansia ini harus berjuang keras memelihara dan merawat seorang anak yang mengalami cacat tetap.
Ironisnya, di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit dan beban merawat anak difabel, keluarga Radima luput dan tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apa pun dari pihak pemerintah desa setempat.
Jeritan Warga Lansia yang Terabaikan
Kondisi serupa dialami oleh beberapa warga rentan lainnya di Desa Bilato, di antaranya Yusuf Daud (67), Nuna Matulu (64), dan Fatma Daud (70). Mereka merupakan potret nyata dari kelompok masyarakat bawah yang terpinggirkan akibat dugaan ketidakpedulian Kepala Desa (Kades) terpilih saat ini.
Masyarakat menggunakan kiasan tajam “cacat fisik, buta, dan tuli” untuk menggambarkan sikap Kades yang dinilai sengaja menutup mata dari gubuk-gubuk reyot milik warga, serta menutup telinga dari jeritan kelaparan masyarakatnya sendiri.
Program-program krusial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), PKH Khusus Lansia, Bantuan Langsung Tunai (BLT), hingga Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dituding mandek atau salah sasaran.
Kesaksian Menohok dari Lokasi, saat diwawancarai oleh wartawan pada Jumat (26/06/2026), salah seorang perwakilan warga Desa Bilato menumpahkan kekecewaan mendalam terhadap jalannya roda pemerintahan desa.
“Kami merasa telah salah memilih pemimpin.
Ternyata setelah menjabat, Kepala Desa kami seperti orang yang cacat fisik dia buta dan tuli.
Dia tidak bisa melihat kami yang tinggal di gubuk reyot tak layak huni ini, dan telinganya tersumbat hingga tidak pernah mendengar tangisan serta jeritan kelaparan masyarakatnya sendiri.
Banyak dari kami, termasuk para lansia seperti Ibu Radima yang memelihara anak cacat tetap, Bapak Yusuf, Ibu Nuna, dan Ibu Fatma, justru tidak pernah tersentuh bantuan sama sekali.
Dinas Sosial harus segera turun tangan melihat ketidakadilan ini!” cecar warga dengan nada emosional.
Kades Bilato Bungkam, Dinsos Didesak Audit Lapangan hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Bilato memilih bungkam.
Upaya konfirmasi yang dikirimkan oleh awak media via pesan singkat WhatsApp pada Jumat (26/06/2026) tidak direspons, dengan status pengiriman yang hanya menunjukkan centang satu (tidak aktif).
Carut-marut pendataan ini memicu gelombang desakan kuat agar Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gorontalo segera turun langsung ke Desa Bilato untuk melakukan validasi ulang data kemiskinan ekstrem serta mengaudit seluruh pendistribusian bansos demi menegakkan keadilan sosial bagi warga miskin yang haknya terabaikan.
Pewarta Ahmad Tuliabu
Redaksi : Feri Windria







