DURI – Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Panca Marga (PC PPM) Kabupaten Bengkalis, Jufri Bonno, meminta PT Global Arrow (GA), mitra kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), untuk mengkaji kembali rencana pemberlakuan tes treadmill bagi karyawan yang berusia di atas 35 tahun.
Jufri, yang juga bertugas sebagai tenaga pengamanan di PT Global Arrow, menilai kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak menimbulkan kesan diskriminatif terhadap kelompok usia tertentu.
“Kalau memang tes treadmill dianggap sebagai standar kesehatan kerja, sebaiknya diberlakukan kepada seluruh karyawan tanpa membedakan usia. Karyawan yang berusia di bawah 35 tahun pun belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik,” ujar Jufri, Selasa (21/7/2026), sebagaimana dikutip dari Posmetrorohil.com.
PT Global Arrow merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) dan telah beroperasi sejak tahun 2003. Perusahaan ini menyediakan layanan pengamanan terpadu, termasuk penyediaan tenaga satuan pengamanan (satpam), serta menjadi mitra kerja PT Pertamina Hulu Rokan di wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Rokan Hilir.
Menurut Jufri, informasi mengenai rencana pelaksanaan tes treadmill tersebut disampaikan oleh salah seorang pejabat operasional perusahaan berinisial FBR beberapa hari lalu. Sejak informasi itu beredar, sejumlah petugas keamanan mengaku menyampaikan kekhawatiran mereka, terutama bagi karyawan yang memiliki riwayat penyakit jantung.
“Ada beberapa rekan yang sudah menjalani pemasangan ring jantung. Kami khawatir tes ini justru berisiko bagi mereka. Kami juga pernah mendengar adanya kejadian petugas keamanan di perusahaan lain yang meninggal dunia saat menjalani tes serupa,” katanya.
Selain aspek kesehatan, Jufri juga mempertanyakan mekanisme pelaksanaan apabila ada karyawan yang dinyatakan tidak lulus tes. Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan mengenai siapa yang akan menanggung biaya tes ulang maupun biaya latihan yang disebut-sebut harus dibiayai sendiri oleh pekerja.
Ia juga menyampaikan adanya dugaan atau persepsi di kalangan pekerja mengenai kemungkinan keterkaitan kebijakan tersebut dengan layanan kesehatan di rumah sakit yang ditunjuk. Namun, dugaan tersebut belum disertai bukti dan belum mendapat tanggapan dari pihak terkait.
Lebih lanjut, Jufri menegaskan bahwa para pekerja tidak bermaksud menolak aturan perusahaan. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan faktor keselamatan, kondisi kesehatan, serta pengabdian para pekerja yang telah puluhan tahun bekerja di lingkungan industri migas.
“Kami bukan menolak aturan. Kami hanya berharap perusahaan juga memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan pekerja. Banyak di antara kami yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun di perusahaan minyak ini,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima, karyawan yang tidak mengikuti tes treadmill berpotensi tidak diperbolehkan bekerja. Padahal, menurutnya, selama dua tahun terakhir para pekerja hanya menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) tanpa tes treadmill dan tetap dapat menjalankan tugasnya.
Jufri berharap PT Pertamina Hulu Rokan selaku perusahaan induk dapat mengevaluasi rencana kebijakan tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan pekerja maupun persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Jangan sampai kebijakan ini dipaksakan tanpa mempertimbangkan berbagai aspek. Kami berharap ada evaluasi sehingga keselamatan pekerja tetap menjadi prioritas,” tutupnya.
Sementara itu, hingga berita ini disusun, Humas PT Global Arrow, Edi Irwan, dan pihak operasional perusahaan, Febrizal, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang diajukan. PT Pertamina Hulu Rokan juga belum menyampaikan pernyataan resmi terkait rencana kebijakan tersebut.
(TIM)







