Kilang Pertamina Dumai Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir di Desa Mundam

- Penulis

Minggu, 19 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DUMAI – PT Pertamina (Persero) melalui PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Dumai (Kilang Pertamina Dumai), menggalang program “Serumpun Paman Bahari”, atau Sinergi Ekologi untuk Masyarakat Pesisir Unggul, Pangan mandiri dan Bahari Lestari.

Aktivitas tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) dengan konsep Pengelolaan Pesisir Terpadu ini terbukti membantu masyarakat pesisir Desa Mundam, Dumai, untuk memperkuat ketahanan dari ancaman abrasi pantai.

Area Manager Communication, Relations, & CSR RU II Dumai Subholding Refining & Petrochemical PT KPI Agustiawan menyampaikan, fenomena perubahan iklim berupa abrasi pantai sudah masif terjadi di pesisir pantai Kelurahan Mundam.

“Pertamina melakukan intervensi dengan beberapa program, salah satunya instalasi alat pemecah ombak (APO) menggunakan ban bekas. Sementara, untuk meningkatkan kapasitas nelayan tangkap, Pertamina juga memberikan pelatihan vokasi berupa pelatihan mekanik kapal sehingga nelayan bisa memperbaiki kapal sendiri dan bisa meningkatkan pendapatan hasil tangkapan”, terang Agus saat acara Kunjungan Media ke Dumai, Jumat 17 Oktober 2025.

Program TJSL ini dijalankan pada tahun 2023 hingga saat ini. Hasilnya, per tahun diperkirakan 451 meter persegi tanah masyarakat terlindungi dari potensi abrasi. Termasuk di dalamnya empat rumah dan empat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang berada di kawasan tersebut.

Alat pemecah ombak juga mampu menambah 20% sedimentasi pesisir, menyerap karbon dari penanaman mangrove hingga 62,4 CO2eq serta 1064,670 kg CO2eq karena penyerapan limbah dari ban bekas.

Selain program pemecah ombak, masyarakat pesisir juga membutuhkan Dermaga Konvensional. Kilang Pertamina Dumai kemudian memanfaatkan limbah kayu palet untuk membangun dermaga, sebagai bentuk pengelolaan limbah yang efektif.

Agus menjelaskan, pembangunan dermaga memberikan manfaat positif. Biasanya nelayan harus menunggu waktu pasang untuk melaut, hingga 4-5 jam sampai air pasang. Dengan adanya dermaga, para nelayan bisa langsung melaut tanpa adanya waktu tunggu.

“Mereka bisa melaut kapan saja, sehingga ini memberi tambahan waktu bagi nelayan untuk menangkap ikan dan hasil tangkapannya bisa lebih banyak,” tutur Agus.

Upaya nyata yang dilakukan Pertamina mendapatkan apresiasi dari Lurah Kelurahan Mundam, Dumai, Adi Aprianto.

Menurutnya, kehadiran alat pemecah ombak hasil inovasi Kilang Dumai menjadi solusi menghambat dan mencegah abrasi. Sampai saat ini, APO sudah berhasil membentuk sedimentasi tanah sekitar 50 sentimeter.

“Kami berterima kasih, karena program ini dapat mengatasi persoalan-persoalan lingkungan seperti ekosistem di wilayah sekitar pantai Mundam”, ujar Adi.

Kehadiran Pertamina juga menjadi angin segar dan sangat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat, khususnya bagi Kelompok Nelayan Mundam.

“Terimakasih atas bantuan yang diberikan,hal tersebut sangat berarti bagi kami masyarakat Desa Mundam, semoga Pertamina di masa datang terus memberikan bantuan dan pendampingan kepada kami,” pungkas Akmaludin, Anggota Kelompok Nelayan Mundam.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, Pertamina berkomitmen menjaga keberlangsungan ekosistem dan masyarakat terutama di tempat Pertamina beroperasi. Melalui berbagai aktivitas TJSL, Pertamina berharap dapat berkontribusi secara langsung ke masyarakat,” jelasnya.

Pada tahun 2024, Pertamina bersinergi bersama masyarakat memasang APO sepanjang 90 meter. Tahun ini pemasangan APO ditargetkan bertambah sepanjang 286 meter.

Seperti diketahui, abrasi atau pengikisan terjadi pada batuan dan tanah, terutama di daerah pesisir, akibat gelombang dan pasang surut arus laut. Di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Provinsi Riau, per tahun arus laut di pesisir ini mempengaruhi 7 meter garis pantai di wilayah tersebut.***

Berita Terkait

Pengendalian Banjir Dumai Dibahas Bersama BWSS III, DED hingga Sheet Pile Jadi Fokus
Dua Wartawan Keluhkan Pelayanan Kapal Feri Rute Ampana–Paguat, Tiket Tanpa Nomor Tempat Tidur
BREAKING NEWS: Truk Tangki CPO Tabrak Truk Mogok di Jalan Kebun Dumai, Minyak Tumpah Picu Kemacetan Panjang
Kejari Dumai Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Kinerja Pembinaan dan Penanganan Perkara Pidana Umum
Diduga Menjadi Korban Penganiayaan, Moh. Hidayat B. Ayahu Laporkan ke Polres Tojo Una-Una
Kepala SMPN 1 Dumai Tegaskan Dugaan Penyimpangan Dana BOSP Tidak Benar, Erwin Sitompul Sebut Proses Audit Masih Berlangsung
Dugaan Illegal Logging di Sungai Sembilan Disorot, Mampukah Kapolres Dumai Mengungkap Aktor di Baliknya?
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kapolsek Rupat Utara Hadiri Penanaman Jagung Pipil di Desa Kadur
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Pengendalian Banjir Dumai Dibahas Bersama BWSS III, DED hingga Sheet Pile Jadi Fokus

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:15 WIB

Dua Wartawan Keluhkan Pelayanan Kapal Feri Rute Ampana–Paguat, Tiket Tanpa Nomor Tempat Tidur

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:23 WIB

BREAKING NEWS: Truk Tangki CPO Tabrak Truk Mogok di Jalan Kebun Dumai, Minyak Tumpah Picu Kemacetan Panjang

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Kejari Dumai Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Kinerja Pembinaan dan Penanganan Perkara Pidana Umum

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Diduga Menjadi Korban Penganiayaan, Moh. Hidayat B. Ayahu Laporkan ke Polres Tojo Una-Una

Berita Terbaru