DUMAI – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Dumai masih menjadi perhatian. Hingga September 2026, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Suhatman Dumai telah menangani dan merawat sebanyak 57 pasien DBD, dengan kasus terbanyak tercatat pada Agustus mencapai 17 kasus.
Direktur RSUD dr. Suhatman Dumai, dr. Eka Viora Effendi, membenarkan adanya 57 pasien DBD yang mendapat perawatan di rumah sakit tersebut sepanjang Januari hingga September 2026.
“Untuk kasus DBD sampai September 2026, ada sebanyak 57 kasus yang kami rawat,” ujar dr. Eka.
Berdasarkan catatan RSUD dr. Suhatman Dumai, jumlah kasus DBD tidak merata setiap bulannya. Dari periode Januari hingga September 2026, Agustus menjadi bulan dengan angka kasus tertinggi, yakni sebanyak 17 pasien.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena memasuki penghujung tahun, pola cuaca yang berubah-ubah berpotensi memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi salah satu vektor penular virus dengue.
Dr. Eka memprediksi jumlah pasien DBD masih berpotensi mengalami peningkatan pada penghujung 2026, terutama di tengah kondisi cuaca hujan dan panas yang silih berganti atau pancaroba.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penyebab penularan DBD.
Dari pasien yang ditangani RSUD dr. Suhatman Dumai, kelompok usia anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak menjalani perawatan.
Pasien yang dirawat umumnya berada pada rentang usia 6–10 tahun serta 11–18 tahun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan dan pemantauan ketika muncul gejala yang mengarah pada DBD, terutama saat kasus meningkat.
Di sisi lain, RSUD dr. Suhatman Dumai memastikan kesiapan fasilitas pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien.
Untuk ruang rawat inap anak, saat ini masih tersedia sekitar 14 ruangan. Jika jumlah pasien meningkat dan membutuhkan tambahan tempat tidur maupun ruang perawatan, pihak rumah sakit menyatakan akan menyesuaikan kapasitas pelayanan.
“Untuk ruangan sejauh ini tidak ada masalah, masih aman. Kalau memang diperlukan tambahan, akan kami siapkan,” jelas dr. Eka.
Selain kapasitas ruang perawatan, ketersediaan obat-obatan untuk penanganan pasien DBD juga disebut masih dalam kondisi aman.
Dengan potensi peningkatan kasus pada periode penghujan dan pancaroba, kewaspadaan masyarakat terhadap DBD tetap diperlukan. Upaya pencegahan, terutama pemberantasan tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk, menjadi bagian penting dalam menekan risiko penularan.







