DUMAI – Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau menyapa Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka ini bukan sekadar wilayah terluar, tetapi juga menyimpan jejak panjang kebudayaan Melayu dan kehidupan masyarakat kampung tua.
Di tengah arus modernisasi yang kerap membuat wilayah pinggiran luput dari perhatian, kehadiran Ekspedisi Merah Putih Presisi membawa pesan berbeda: negara tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga mendengar, membantu, dan merawat.
Dipimpin Kapolres Dumai AKBP Fatikh Dedy Setyawan, rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan bakti sosial, dialog bersama masyarakat, bantuan pendidikan bagi sekolah, hingga penanaman mangrove sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan pesisir.
Menyentuh Langsung Kehidupan Warga
Kehadiran rombongan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Sungai Sembilan. Bagi sebagian warga, kunjungan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar agenda seremonial karena menjadi kesempatan untuk menyampaikan langsung kondisi dan harapan masyarakat kepada aparat negara.
Kami sangat senang. Ini pertama kali kami dikunjungi seperti ini,” ujar salah seorang warga.
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa pentingnya kehadiran pemerintah dan aparat di wilayah yang selama ini berada jauh dari pusat aktivitas perkotaan.
Bakti Sosial dan Pendidikan
Selain berdialog dengan masyarakat, Ekspedisi Merah Putih Presisi juga membawa bantuan sosial serta dukungan untuk sektor pendidikan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan sekolah, terutama dalam mendukung proses pendidikan anak-anak di kawasan pesisir.
Bagi masyarakat, perhatian terhadap pendidikan menjadi bagian penting dari upaya memastikan anak-anak di wilayah Sungai Sembilan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih masa depan.
Menanam Mangrove, Merawat Pesisir
Kegiatan penanaman mangrove menjadi salah satu pesan penting dalam ekspedisi tersebut.
Sebagai kawasan pesisir yang berhadapan dengan Selat Malaka, keberadaan mangrove memiliki nilai ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat. Vegetasi pesisir ini berperan dalam menjaga garis pantai, menjadi habitat berbagai biota, serta membantu mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Penanaman mangrove sekaligus menjadi simbol bahwa menjaga wilayah perbatasan dan pesisir bukan hanya soal keamanan, tetapi juga tentang merawat lingkungan yang menjadi ruang hidup masyarakat.
Negara yang Hadir hingga ke Ujung Wilayah
Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026 memperlihatkan wajah lain dari tugas kepolisian. Kehadiran aparat tidak semata-mata berkaitan dengan penegakan hukum dan keamanan, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Sungai Sembilan menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelayanan negara tidak seharusnya berhenti di pusat kota. Di kampung-kampung tua, kawasan pesisir, dan wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, masyarakat tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian.
Di tempat inilah Merah Putih kembali menemukan maknanya: hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat.
Sebab, merawat Indonesia bukan hanya menjaga wilayahnya dari ancaman, tetapi juga memastikan mereka yang tinggal di pelosok tetap merasa menjadi bagian utuh dari rumah besar bernama Indonesia.







