DUMAI – Pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit tak hanya berhenti pada proses produksi. Di Dumai, bungkil inti sawit atau palm kernel expeller (PKE) dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk mendukung pengembangan usaha peternakan kambing masyarakat.
Program tersebut dijalankan Apical melalui PT Sari Dumai Sejati (PT SDS) dengan memberikan pendampingan kepada dua kelompok peternak binaan yang melibatkan 24 keluarga di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Hasilnya mulai terlihat dari perkembangan aset dan aktivitas penjualan ternak. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kedua kelompok tersebut tercatat memiliki 272 ekor kambing dan telah menjual 66 ekor dengan nilai mencapai Rp178,2 juta.
PKE merupakan produk samping dari proses pengolahan inti kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena mengandung nutrisi dan serat.
Sebelum diberikan kepada kambing, PKE terlebih dahulu melalui proses fermentasi. Tahapan ini dilakukan untuk membantu melunakkan tekstur serta mengurai sebagian serat kompleks sehingga pakan lebih mudah dikonsumsi dan dicerna oleh ternak.
CSR Manager Apical, Agus Wiastono, mengatakan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dari kegiatan operasional perusahaan diupayakan agar turut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
> “Kami ingin agar sumber daya yang tersedia dari kegiatan operasional juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Melalui pendampingan ini, PKE dimanfaatkan untuk mendukung usaha peternakan yang dapat terus berkembang dan memberikan nilai ekonomi bagi keluarga anggota kelompok,” ujar Agus.
Menurutnya, fermentasi menjadi salah satu tahapan penting dalam pemanfaatan PKE sebagai pakan tambahan. Pakan tersebut kemudian diberikan bersama hijauan untuk mendukung kebutuhan pakan kambing.
Program pendampingan tersebut menyasar dua kelompok peternak yang berada di wilayah RT 5, 6, dan 7.
Kelompok pertama, Kelompok Tani Wanita Tunas Harapan, beranggotakan 10 keluarga. Kelompok ini memiliki 112 ekor kambing dengan nilai aset yang disebut mencapai Rp214,85 juta.
Dalam periode Januari–Agustus 2026, kelompok tersebut telah menjual 32 ekor kambing dengan nilai Rp86,4 juta.
Selain peternakan, kelompok juga mengembangkan kegiatan simpan pinjam dengan nilai sekitar Rp54 juta sebagai bagian dari upaya memperkuat aktivitas ekonomi para anggotanya.
Bagi anggota kelompok, hasil dari usaha ternak bahkan telah memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan keluarga.
Lina, Ketua Kelompok Tani Wanita Tunas Harapan, mengatakan hasil penjualan ternak yang diperoleh kelompok turut membantu membiayai pendidikan anaknya hingga menyelesaikan pendidikan pada jenjang S1.
Sementara itu, Kelompok Sukabumi memiliki 14 keluarga anggota dengan total 160 ekor kambing. Nilai aset ternak kelompok tersebut disebut mencapai Rp286,75 juta.
Pada periode yang sama, kelompok ini mencatat penjualan sebanyak 34 ekor kambing dengan nilai Rp91,8 juta.
Salah seorang anggota Kelompok Sukabumi, M. Nasir, mengatakan kelompoknya memperoleh bantuan PKE secara berkala untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.
Menurutnya, bantuan tersebut diberikan sekitar setiap satu setengah bulan dengan jumlah total sekitar 2,3 ton.
Perkembangan kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa usaha peternakan dapat menjadi salah satu kegiatan produktif yang tidak hanya menghasilkan ternak, tetapi juga membangun aset sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.
Pendampingan tidak hanya diarahkan pada penyediaan pakan tambahan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas kelompok agar pengelolaan usaha peternakan dapat berjalan lebih produktif dan berkelanjutan.
Ke depan, Apical melalui PT SDS menyatakan akan melanjutkan pendampingan dengan fokus pada peningkatan produktivitas ternak, pengelolaan usaha, serta penguatan kemandirian kelompok.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat usaha peternakan kambing terus berkembang dan semakin mampu menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarga anggota kelompok.







