Ritus Tergerus Rakus”: Kritik Seni terhadap Perambahan Hutan di Kuansing

- Penulis

Kamis, 30 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


KUANSING
– Perambahan hutan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) semakin mengkhawatirkan. Tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menggerus nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Isu ini menjadi perhatian serius bagi berbagai kalangan, termasuk seniman dan budayawan. Salah satu di antaranya adalah Epi Martison, koreografer nasional dan pegiat budaya asal Kuansing, yang melalui karyanya berupaya menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam diskusi yang berlangsung di grup WhatsApp Poros Kuansing pada Kamis (30/01/2025), Epi Martison menyoroti dampak eksploitasi hutan yang semakin masif. Kritiknya terhadap perusakan alam dituangkan dalam sebuah karya seni koreografi berjudul “Ritus Tergerus Rakus”, sebuah pertunjukan yang menggambarkan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi hutan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan dan budaya.

Karya ini tidak hanya menampilkan tarian, tetapi juga menyisipkan pesan mendalam tentang keterkaitan antara manusia dan alam. Dengan latar cerita yang sarat simbolisme, “Ritus Tergerus Rakus” telah beberapa kali dipentaskan di berbagai ajang seni nasional, mengundang diskusi serta refleksi bagi para penonton.

Epi Martison bukanlah nama asing di dunia seni tari. Sebagai koreografer yang telah menjelajahi berbagai panggung internasional, ia kini mewakili DKI Jakarta dalam ajang Pastakom VIII. Namun, identitasnya tetap berakar kuat di tanah kelahirannya, Kuantan Singingi. Oleh karena itu, dalam setiap karyanya, ia selalu menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk dalam “Ritus Tergerus Rakus”.

“Kesenian bukan hanya soal estetika, tetapi juga media kritik sosial. Melalui seni, kita ingin menyampaikan pesan bahwa eksploitasi hutan yang berlebihan membawa kehancuran bagi lingkungan dan budaya kita,” ujar Epi Martison.

Menurutnya, perusakan hutan atas nama pembangunan telah merampas lebih dari sekadar pepohonan-ia mengikis peradaban yang berbasis kearifan lokal. Banyak ritual adat yang dahulu erat kaitannya dengan kelestarian hutan dan sungai kini mulai menghilang.

“Dari mana urang mambiak kayu kalau tidak dari dalam hutan? Di mana urang akan bapacu kalau tidak di Batang Kuantan? Jaga hutan, maka akan terselamatkanlah air Kuantan, tempat Pacu Jalur kebanggaan urang Kuantan. Akan terselamatkan pula kearifan adat, adab, peradaban, dan kebudayaan yang ada di batang tubuh urang Kuantan.”

Hutan di Kuansing bukan sekadar bentangan alam, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial bagi masyarakat adat. Selama berabad-abad, masyarakat telah menjadikan hutan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka, baik sebagai sumber pangan, obat-obatan, maupun tempat berlangsungnya berbagai ritual sakral. Namun, deforestasi yang semakin masif kini mengancam keberlanjutan tradisi tersebut.

Pernyataan Epi Martison mendapat perhatian luas dari berbagai pihak. Banyak yang menilai bahwa seni memiliki kekuatan besar dalam menyuarakan isu sosial dan lingkungan. Melalui pertunjukan seperti “Ritus Tergerus Rakus”, para seniman dapat menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Dengan semakin maraknya eksploitasi hutan di Kuansing, suara dari para seniman dan budayawan seperti Epi Martison menjadi semakin penting. Jika tidak ada tindakan nyata untuk melindungi lingkungan, maka bukan hanya ekosistem yang rusak, tetapi juga identitas budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuansing selama turun-temurun.

Meskipun pesan yang disampaikan melalui seni mungkin tidak selalu langsung dipahami oleh semua orang, diskusi dan refleksi yang muncul dari karya seperti “Ritus Tergerus Rakus” menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran dan kepedulian bersama.

Ke depan, diharapkan semakin banyak seniman yang menjadikan seni sebagai alat perjuangan, membela lingkungan, dan menjaga kelestarian budaya yang menjadi jati diri masyarakat. Sebab, seperti yang selalu diingatkan oleh para tetua adat: menjaga hutan berarti menjaga kehidupan.

Berita Terkait

Babinsa Koramil 04/Rupat Laksanakan Komsos di Desa Parit Kebumen
Babinsa Koramil 04/Rupat Bersama Masyarakat Laksanakan Patroli Karhutla di Desa Pancur Jaya
Rutan Dumai Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat
Satres Narkoba Polres Dumai Amankan Paket Sabu Dari Dua Tempat Yang Berbeda
Natural Wonders of Tojo Una-Una: The Eternal Flames of Tanjung Api and the Pure Freshness of Uempamaja Spring
Keajaiban Wisata Alam Tojo Una-Una: Kilatan Api Abadi Tanjung Api dan Kesegaran Alami Mata Air Uempamaja
Antisipasi Tindak Kriminal, Polres Dumai Melalui Polsek Jajaran Melaksanakan Penggalangan
SI DUMA KU Hadir di Tengah Masyarakat, Imigrasi Dumai Permudah Layanan Paspor Sekaligus Dongkrak UMKM Lokal

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 07:13 WIB

Babinsa Koramil 04/Rupat Laksanakan Komsos di Desa Parit Kebumen

Jumat, 17 April 2026 - 07:10 WIB

Babinsa Koramil 04/Rupat Bersama Masyarakat Laksanakan Patroli Karhutla di Desa Pancur Jaya

Jumat, 17 April 2026 - 05:26 WIB

Rutan Dumai Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat

Jumat, 17 April 2026 - 05:22 WIB

Satres Narkoba Polres Dumai Amankan Paket Sabu Dari Dua Tempat Yang Berbeda

Jumat, 17 April 2026 - 03:50 WIB

Natural Wonders of Tojo Una-Una: The Eternal Flames of Tanjung Api and the Pure Freshness of Uempamaja Spring

Berita Terbaru