DUMAI — Dua video edukasi yang menampilkan aktivitas petugas Imigrasi Kelas I TPI Dumai di media sosial Instagram berhasil menarik perhatian luas publik. Total tayangan kedua video tersebut mencapai sekitar 5,4 juta views, sekaligus memperlihatkan bagaimana informasi keimigrasian dapat dikemas secara sederhana, humanis, dan mudah dipahami masyarakat.
Petugas tersebut diketahui bernama Azhar Saputra, petugas Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) pada Kantor Imigrasi Kelas I TPI Dumai. Melalui akun Instagram pribadinya, @saputrazhar, Azhar aktif membagikan konten mengenai pemeriksaan paspor, prosedur keberangkatan dari Dumai, hingga edukasi terkait persoalan kewarganegaraan.
Salah satu video yang menjadi perhatian publik telah ditonton lebih dari 3,6 juta kali. Video tersebut memperlihatkan proses pemeriksaan seorang penumpang yang menggunakan cadar.
Dalam proses pemeriksaan, penumpang diarahkan untuk menjalani pencocokan wajah oleh petugas perempuan di dalam ruangan. Prosedur tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian identitas sekaligus mencegah potensi penyalahgunaan identitas atau impostor.
Meski demikian, proses pemeriksaan tetap dilakukan dengan pendekatan yang memperhatikan kenyamanan penumpang.
“Wajah harus tetap dicocokkan, itu prosedur wajib untuk mencegah impostor. Tapi kita berikan pilihan yang nyaman, kalau ada petugas perempuan, silakan di dalam,” ujar Azhar.
Konten tersebut mendapat perhatian luas karena memperlihatkan bahwa prosedur pemeriksaan keimigrasian dapat dijalankan dengan tetap mengedepankan pelayanan dan penghormatan terhadap penumpang.
Video kedua yang telah ditonton sekitar 1,8 juta kali mengangkat persoalan yang lebih spesifik, yakni status keimigrasian anak hasil perkawinan campuran Indonesia-Malaysia.
Dalam video tersebut, Azhar berbincang dengan seorang ibu asal Sumatera Barat yang hendak berangkat ke Malaysia setelah anaknya meninggal dunia di negara tersebut.
Sang ibu menjelaskan bahwa anaknya memiliki pasangan berkewarganegaraan Malaysia. Situasi tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi Azhar untuk memberikan edukasi mengenai pilihan keimigrasian bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda (ABG).
Salah satu fasilitas yang dijelaskan adalah Kartu Affidavit, yang berkaitan dengan anak hasil perkawinan campuran. Fasilitas tersebut memberikan kemudahan tertentu dalam aspek keimigrasian selama anak berada di Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sebelum menentukan status kewarganegaraannya ketika telah mencapai usia yang ditentukan peraturan perundang-undangan.
Informasi tersebut dinilai relevan bagi keluarga Indonesia yang memiliki hubungan perkawinan dengan warga negara asing, khususnya di wilayah perbatasan seperti Dumai yang memiliki mobilitas tinggi menuju Malaysia.
Popularitas kedua video tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai keimigrasian tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa formal dan kaku.
Melalui media sosial, Azhar mengemas pengalaman sehari-hari sebagai petugas imigrasi menjadi konten edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Mulai dari pemeriksaan penumpang, pencocokan identitas, pencegahan penggunaan identitas orang lain, hingga persoalan kewarganegaraan ganda dan Affidavit.
Azhar juga tercatat aktif membagikan berbagai informasi mengenai pemeriksaan paspor, alur keberangkatan dari Dumai, persoalan kewarganegaraan ganda, Affidavit, serta aktivitasnya sebagai petugas Imigrasi Dumai.
Dengan jumlah pengikut sekitar 34 ribu akun, konten yang dibuatnya tidak sekadar menjadi dokumentasi aktivitas pribadi, tetapi turut berkembang sebagai kanal edukasi informal mengenai keimigrasian.
Bagi masyarakat Dumai dan daerah lain yang memiliki mobilitas tinggi menuju Malaysia, informasi mengenai keimigrasian memiliki nilai penting.
Persoalan keimigrasian tidak hanya berkaitan dengan keluar-masuk seseorang dari suatu negara, tetapi juga menyangkut identitas, kewarganegaraan, serta aspek keimigrasian anak hasil perkawinan campuran.
Fenomena 5,4 juta views dari dua konten tersebut menunjukkan bahwa ketika informasi pelayanan publik dikemas secara sederhana, humanis, dan dekat dengan persoalan sehari-hari, edukasi keimigrasian mampu menjangkau masyarakat dalam skala yang jauh lebih luas.







