Ket foto : wawancara dari pihak pertamina bersama media
DUMAI – Ledakan atau yang disebut pihak Pertamina sebagai rilis tekanan kembali terjadi di area Kilang Pertamina Dumai, Rabu malam (2/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Dentuman keras terdengar hingga ke wilayah Pulau Rupat dan mengagetkan warga, khususnya masyarakat yang bermukim di kawasan Ring 1 Tanjung Palas. Sejumlah warga spontan berhamburan keluar rumah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kondisi yang lebih buruk.
Peristiwa tersebut juga kembali memunculkan trauma bagi sebagian warga yang sebelumnya pernah merasakan kejadian serupa di kawasan kilang.
Informasi yang dihimpun dari lapangan menyebutkan, suara dentuman diduga berasal dari Area 212, Reaktor Pompa 6. Informasi awal menyebutkan adanya kondisi flash yang kemudian menimbulkan suara dentuman keras. Namun, hingga berita ini ditayangkan, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu penjelasan resmi dari pihak Pertamina.
Pasca-kejadian, sejumlah personel TNI dan Polri terlihat berjaga di Gate 1 dan Gate 2 Kilang Pertamina. Sementara itu, warga mulai berdatangan dan berkumpul, terutama di sekitar Gate 2, untuk mencari kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam area kilang.
Kekecewaan warga semakin mencuat lantaran mereka mengaku tidak mendapatkan pemberitahuan maupun peringatan setelah dentuman terjadi. Bahkan, warga mempertanyakan mengapa sirene bahaya tidak dibunyikan jika memang terjadi kondisi yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran masyarakat di sekitar kilang.
Di tengah situasi tersebut, Manager HSE Pertamina, Syahrial Okzani, akhirnya menemui warga dan berupaya memberikan penjelasan sekaligus menenangkan masyarakat.
Dalam dialog dengan warga, Syahrial menyebut suara yang terdengar bukan merupakan ledakan, melainkan rilis tekanan, serta menyatakan kondisi dalam keadaan aman.
Namun penjelasan tersebut justru mendapat respons keras dari warga yang merasa suara dentuman yang mereka dengar sangat jelas.
Warga: “Tidak ada pemberitahuan. Jadi apa gunanya setiap Jumat, Bapak informasikan tes suara? Itu apa gunanya? Sementara ada ledakan, kami tidak dikasih tahu!”
Syahrial Okzani: “Itu bukannya ledakan, Pak, ya…”
Warga: “Jadi apa kalau bukan ledakan? Apa namanya kalau bukan ledakan? Ledakan tadi tuh!”
Syahrial Okzani: “Rilis tekanan, Pak, ya.”
Warga: “Bukan ledakan itu, Pak, ya?”
Perdebatan tersebut menggambarkan keresahan warga yang menginginkan informasi cepat, terbuka dan jelas setiap kali terjadi kejadian di dalam kawasan kilang.
Ketika ditanyakan mengenai kemungkinan adanya korban, Syahrial Okzani memastikan tidak ada korban dalam kejadian tersebut.
Sementara terkait penyebab, kronologi dan detail teknis kejadian, ia menyebut penjelasan lebih lanjut akan disampaikan oleh pihak Comrel Pertamina.
Namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Comrel mengenai kejadian tersebut. Upaya untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut juga belum membuahkan hasil karena pihak Manager Comrel, Tengku M Rum disebut masih sulit dihubungi.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan kilang, kejadian seperti ini bukan sekadar persoalan suara dentuman. Transparansi informasi dan sistem peringatan dini menjadi hal penting, mengingat ribuan warga tinggal berdekatan dengan objek vital nasional tersebut.
Warga kini menunggu penjelasan resmi Pertamina: apa sebenarnya yang terjadi di Area 212 Reaktor Pompa 6, apa penyebabnya, apakah benar hanya merupakan rilis tekanan, serta mengapa tidak ada sirene atau pemberitahuan kepada masyarakat sekitar saat dentuman terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting untuk memastikan masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian setiap kali terjadi insiden di kawasan kilang.*
(Redaksi)







