TOJO UNA-UNA – Siasat berkelit Kepala Desa (Kades) Bantuga, Kecamatan Ampana Tete, terkait hilangnya sapi pejantan bantuan milik kelompok peternak lokal kini resmi menemui jalan buntu.
Kebohongan publik yang diduga kuat dirancang sang kades untuk menyelamatkan diri dari amarah warga akhirnya terbongkar secara dramatis setelah pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) angkat bicara.
Sebelumnya, dalam konfirmasi resmi pada Rabu (8/7/2026), Kades Bantuga dengan nada defensif mengeklaim bahwa penjualan sapi pejantan sepihak itu dilakukan atas sepengetahuan dan persetujuan Ketua BPD desa setempat.
Alibi miring tersebut sengaja dilemparkan ke publik demi meredam gejolak amarah warga yang menuduhnya “menumbalkan” aset rakyat untuk mendanai ongkos studi banding sang istri ke Luwuk.
Namun, taktik lempar tanggung jawab itu seketika rontok total. Pada konfirmasi lanjutan yang dilakukan pada Minggu malam (12/7/2026), Ketua BPD Bantuga secara mengejutkan mengeluarkan bantahan yang sangat keras dan menolak dijadikan tameng atas tindakan keliru sang kades.
“Saya tegaskan dengan sebenar-benarnya, saya selaku Ketua BPD tidak pernah tahu dan tidak pernah dimintai persetujuan apa pun terkait penjualan sapi bantuan tersebut. Itu murni tindakan sepihak,” ujar Ketua BPD Bantuga dengan nada kecewa saat dikonfirmasi, Minggu malam (12/7/2026).
Lebih lanjut, ia mengungkapkan fakta miris bahwa dirinya justru terpaksa mengetahui kabar hilangnya aset desa tersebut dari ruang publik, bukan dari laporan resmi pemerintah desa.
“Saya malah baru tahu kalau sapi itu sudah dijual setelah beritanya tayang dan viral di beberapa media massa. Jujur, kami di BPD sangat menyayangkan sikap keliru Kades yang membawa-bawa nama lembaga kami untuk membenarkan tindakan yang melangkahi aturan musyawarah desa,” tambahnya memungkasi pembicaraan.
Terbongkarnya fakta ini semakin memperpanjang daftar hitam borok manajemen di Desa Bantuga.
Selain dugaan penggelapan sapi bantuan, sang Kades juga tengah menjadi sorotan tajam atas misteri “disunatnya” 60 lembar seng untuk proyek atap bangunan sekolah PAUD/MDA yang hingga kini dibiarkannya terlantar tanpa jawaban transparan.
Warga kini mendesak keras agar Inspektorat dan aparat penegak hukum di Kabupaten Tojo Una-Una tidak tinggal diam dan segera turun tangan mengusut tuntas skandal penyalahgunaan jabatan ini.
Topeng kebohongan telah terbuka, dan masyarakat Bantuga kini menuntut keadilan serta transparansi penuh atas hak-hak mereka yang diduga kuat telah dirampas.
(Ahmad Tuliabu)
Redaksi : Feri Windria







