RUPAT – Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar ke wilayah Rupat Utara saat ini tengah menghadapi tantangan besar. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Tanjung Medang, Teluk Lecah, dan Tanjung Kapal, kendala utama bersumber dari masalah transportasi laut serta adanya pemangkasan kuota pengiriman secara signifikan.
Kendala Armada Penyeberangan Roro
Menurut para pemilik SPBU, ketersediaan stok solar di tingkat Pertamina sebenarnya tidak mengalami pembatasan dari segi permintaan. Tantangan terbesar justru terletak pada keterbatasan armada kapal penyeberangan (Roro) yang mengangkut komoditas tersebut.
Akibat keterbatasan jadwal kapal, pasokan yang biasanya dapat disalurkan hampir setiap hari (Senin, Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu), kini harus dipadatkan. Pengiriman hanya bisa dimaksimalkan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, dengan rata-rata volume masuk sekitar 15.000 liter per SPBU pada setiap hari pengiriman.
Pemangkasan Kuota DO yang Drastis
Selain kendala logistik armada
penyeberangan, penurunan volume pasokan solar di tingkat pangkalan juga dipicu oleh pembatasan kuota Delivery Order (DO) dari Pertamina dalam beberapa waktu terakhir.
“Sekarang ini memang agak keterbatasan solar. Biasanya per SPBU itu bisa mendapatkan kuota 9 hingga 11 DO. Namun saat ini, dalam satu bulan paling tinggi hanya tersisa 5 sampai 6 DO saja,” ungkap salah satu pihak pengelola.
Kondisi ini praktis memotong hampir separuh dari pasokan normal yang biasa diterima oleh masyarakat di Rupat Utara. Jika stabilitas armada transportasi dan kuota DO ini tidak segera mendapat solusi, dikhawatirkan akan berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat setempat yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar solar.







