Bilato dan Girisa: Dua Nama, Satu Ikatan Jiwa

- Penulis

Jumat, 31 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tepian Sungai Paguyaman yang membentang dari hulu hingga bermuara ke Teluk Tomini, sejarah telah menorehkan kisah tentang dua wilayah yang tak pernah benar-benar terpisahkan: Bilato dan Girisa. Air sungai memang mengalir di antara keduanya, seolah menjadi batas yang membelah daratan. Namun, tak pernah sekali pun aliran itu mampu memisahkan hati masyarakatnya. Justru di atas riak air itulah persaudaraan tumbuh, mengakar, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari ini Bilato berada dalam wilayah administratif Kabupaten Gorontalo, sementara Girisa menjadi bagian dari Kabupaten Boalemo. Pemekaran daerah telah melahirkan batas-batas baru di atas peta pemerintahan. Garis-garis administrasi pun berubah mengikuti perjalanan waktu. Akan tetapi, sejarah tidak pernah tunduk pada garis yang digambar manusia. Persaudaraan tidak mengenal sekat birokrasi. Apa yang diwariskan para leluhur tetap hidup dalam sanubari masyarakat di kedua wilayah.

Bilato dan Girisa bukan sekadar dua kecamatan yang dipisahkan oleh sebuah sungai. Keduanya adalah dua saudara yang lahir dari akar sejarah yang sama, dibesarkan oleh adat yang sama, dan dipersatukan oleh ikatan darah yang begitu erat. Sejak dahulu kala, masyarakat di kedua wilayah saling mengunjungi, saling membantu dalam suka maupun duka, saling menopang kehidupan, dan menjadikan nilai kekeluargaan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Hingga hari ini, hubungan itu tetap terpelihara. Banyak warga Bilato memiliki keluarga besar di Girisa, demikian pula sebaliknya. Ikatan itu terjalin melalui hubungan orang tua, paman, bibi, kakek, nenek, sepupu, hingga semakin erat melalui pernikahan antarkeluarga. Hubungan tersebut bukan sekadar catatan silsilah, melainkan jalinan kasih yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Saat pesta pernikahan digelar di Bilato, keluarga dari Girisa datang membawa doa, kebahagiaan, dan rasa memiliki, seakan-akan pesta itu berlangsung di kampung halaman mereka sendiri. Begitu pula ketika hajatan dilaksanakan di Girisa, masyarakat Bilato hadir tanpa merasa sebagai tamu. Ketika musibah menimpa salah satu keluarga, bantuan datang tanpa perlu diminta. Saat hari-hari besar keagamaan tiba, silaturahmi kembali menguatkan simpul persaudaraan yang telah dirintis oleh para leluhur.

Warisan terbesar para pendahulu bukanlah kekayaan atau kekuasaan. Mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih bernilai: semangat persaudaraan, gotong royong, saling menghormati, serta rasa tanggung jawab untuk menjaga sesama. Nilai-nilai luhur itulah yang menjadi perekat kehidupan masyarakat Bilato dan Girisa hingga hari ini.

Sungai Paguyaman terus mengalir membawa cerita dari masa lalu menuju masa depan. Ia menjadi saksi bisu lahirnya generasi demi generasi, menyaksikan perubahan zaman, pergantian kepemimpinan, hingga lahirnya pemekaran wilayah. Namun, satu hal yang tak pernah berubah adalah kokohnya ikatan batin masyarakat di kedua tepian sungai itu. Alam memang menciptakan sungai sebagai batas daratan, tetapi Tuhan menjadikan kasih sayang sebagai jembatan yang tak pernah runtuh.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat Bilato dan Girisa tetap memegang teguh identitas sebagai satu keluarga besar. Mereka memahami bahwa kemajuan tidak boleh menghapus sejarah, dan perkembangan zaman tidak boleh mengikis jati diri. Sebaliknya, sejarah harus menjadi cahaya yang menerangi langkah generasi muda agar tetap menghormati asal-usul, menjaga adat istiadat, serta merawat persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Siapa pun yang datang berkunjung ke Bilato maupun Girisa akan merasakan kehangatan yang sama. Sapaan yang ramah, senyum yang tulus, budaya gotong royong, serta penghormatan kepada tamu menjadi bukti bahwa kedua wilayah ini masih berdiri dalam satu ikatan jiwa yang kokoh. Tidak ada sekat dalam hati mereka, sebab yang hidup adalah rasa kekeluargaan yang telah berakar kuat sejak dahulu.

Semoga persaudaraan yang diwariskan oleh para leluhur senantiasa terjaga hingga anak cucu di masa masa mendatang.

Oleh: Ahmad Tuliabu

Berita Terkait

Kantor Imigrasi Dumai Membebas Tugaskan Oknum Pegawai Yang Diduga Terlibat Kecelakaan Maut
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Fisik 80.000 Gerai, Pergudangan dan Perlengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Pemalakan Di Simpang TPI Di Ciduk Reserse Kriminal Polres Dumai
Bentuk Kepedulian Perusahaan. PT Ivo Mas Tunggal Melaksanakan Gotong Royong
Undangan 500, Masyarakat yang hadiri kampanye Paisal – Sugiyarto di Jaya Mukti membludak
Bawaslu GO To Campus, Ajak Mahasiswa Awasi Pilkada 2024
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:29 WIB

Kantor Imigrasi Dumai Membebas Tugaskan Oknum Pegawai Yang Diduga Terlibat Kecelakaan Maut

Jumat, 17 Oktober 2025 - 10:40 WIB

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Fisik 80.000 Gerai, Pergudangan dan Perlengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Minggu, 1 Juni 2025 - 12:46 WIB

Pemalakan Di Simpang TPI Di Ciduk Reserse Kriminal Polres Dumai

Jumat, 31 Januari 2025 - 10:25 WIB

Bentuk Kepedulian Perusahaan. PT Ivo Mas Tunggal Melaksanakan Gotong Royong

Selasa, 15 Oktober 2024 - 09:51 WIB

Undangan 500, Masyarakat yang hadiri kampanye Paisal – Sugiyarto di Jaya Mukti membludak

Berita Terbaru

Berita

Suara untuk Seluruh Masyarakat Kabupaten Tojo Una-Una

Jumat, 31 Jul 2026 - 13:14 WIB